Blogua

.

Minggu, 01 Februari 2009

Telecaprisport.it

Football Live

Premier League : Newcastle - Sunderland // Liverpool - Chelsea


Premiere League


Superlig : Fenerbahce - Gaziantepspor

Kamis, 28 Agustus 2008

Piala Dunia 1966

Piala Dunia FIFA 1966, yang merupakan Piala Dunia FIFA ke-delapan, digelar di Inggris sejak 11 Juli 1966 hingga 30 Juli 1966. Inggris dipilih sebagai tuan rumah penyelenggara oleh FIFA pada Agustus 1960 untuk selebrasi centenary atas kodifikasi sepak bola. Piala Dunia ini adalah Piala Dunia FIFA yang penuh kemenangan kontroversial bagi tuan rumah, di mana Inggris memenangi pertandingan pada partai final, mengalahkan Jerman Barat dengan skor 4 – 2. Atas hasil itu, mereka menerima kali pertamanya (dan hanya) kemenangan pada turnamen Piala Dunia FIFA dan menjadi tuan rumah pertama untuk memenangkan turnamen tersebut sejak Italia memenangkannya di negaranya pada tahun 1934.

Piala Dunia 1962

Pemilihan Cile sebagai tuan rumah Piala Dunia 1962 sempat membuat sebagian besar anggota tim peserta mengangkat alis. Pasalnya, situasi politik negara kecil di kaki gunung Andes tersebut tengah bergolak, juga tak memiliki stadion, jalan, ataupun fasilitas yang layak untuk menggelar turnamen sekelas Piala Dunia.

Sebanyak 47 negara ikut ambil bagian di babak kualifikasi meski kemudian lima negara--Mesir, Indonesia, Kanada, Sudan, dan Rumania--menolak ikut serta. Kejutan terjadi setelah Prancis dan Swedia gagal lolos.

Campeonate Mundial de Futbol 1962 tercatat sebagai Piala Dunia paling berdarah. Di grup 1, pemain Uni Soviet, Edouard Dubinsky, mengalami patah kaki, sementara Slava Metreveli dipukul di wajah saat bertemu dengan Yugoslavia. Soviet menang 2-0 meski kehilangan dua pemain kuncinya.

Di grup 2, partai Italia dan tuan rumah Cile berubah jadi arena perkelahian. Dalam partai yang dijuluki The Battle of Santiago itu, dua pemain Italia diusir wasit dan polisi terpaksa turun tangan menengahi pemain yang baku hantam di tengah lapangan.

Pele--bintang Brasil--juga jadi korban di grup 3. Ia hanya bermain dua kali.

Brasil baru saja berganti pelatih dari Vicente Feola ke Aimore Moreira. Moreira membuat kejutan dengan mengubah formasi tradisional tim Samba yang 4-2-4 menjadi 4-3-3 dengan menempatkan Mario Zagallo sebagai jenderal lapangan tengah.

Perjalanan Brasil tidaklah semulus yang diperkirakan. Menekuk Meksiko 2-0 di pertandingan pertama, Brasil harus kehilangan Pele yang cedera otot saat ditahan imbang Cekoslovakia 0-0. Beruntung, meski tanpa Pele, Brasil masih memiliki Garrincha, Vava, Didi, Gilmar, dan Zagallo. Menang tipis atas Spanyol (2-1) di partai terakhir, Brasil lolos.

Di perempat final, Selecao bertemu dengan runner-up grup 4, Inggris. Diperkuat Bobby Charlton, Johnny Haynes, Bryan Douglas, Jimmy Greaves, dan Gerry Hitchens, Inggris tak mampu berbuat banyak menahan dua gol Garrincha serta Vava yang memberikan kemenangan 3-1 bagi Brasil.

Hasil lainnya, Cile menundukkan Uni Soviet 2-1, Cekoslovakia menang atas Hungaria 1-0 dan Yugoslavia unggul 1-0 atas Jerman Barat.

Partai semifinal bisa dikatakan sebagai partai Eropa-Eropa melawan Amerika Selatan-Amerika Selatan.
Di Stadion Nacional, Brasil menghadapi Cile dan unggul 2-1 saat turun minum berkat dua gol Garrincha. Di babak kedua, Cile mencoba mengejar lewat penalti Leonel Sanchez, tapi dua gol dari Vava mengakhiri perlawanan tuan rumah (4-2). Lawan Brasil di final, Cekoslovakia, secara mengejutkan menundukkan Yugoslavia 3-1.

Menjelang final, Brasil bertanya-tanya apakah Garrincha boleh diturunkan menyusul kartu merah yang diterima di semifinal. Keputusan FIFA untuk memperbolehkan Mane--sapaan Garrincha--dibalas dengan penampilan gemilang.
Meski tertinggal lebih dulu setelah Josef Masopust mencetak gol pada menit ke-15, Brasil menyamakan skor lewat Amarildo dua menit kemudian.

Duet Garrincha dan Mario Zagallo tak tertahankan di babak kedua. Gawang Schroiff dibobol dua kali lewat gol Zito dan Vava.

Brasil pun menjadi tim ketiga--setelah Uruguay dan Italia--yang merebut trofi Jules Rimet dua kali.

Piala Dunia 1958

Piala Dunia 1958 adalah tahunnya Brasil. Tak beruntung di Piala Dunia 1950, tim Samba akhirnya menjadi juara untuk pertama kalinya, gelar yang sudah ditunggu sejak lama.

Eropa kembali mendapat jatah tuan rumah. Setelah Swiss, kali ini Swedia mendapat kehormatan, dua tahun setelah The Father of World Cup, Jules Rimet, wafat pada 16 Oktober 1956 di Paris dalam usia 83 tahun.

Piala Dunia keenam ini juga ditandai rekor negara yang ikut serta, yaitu 55 negara. Babak kualifikasi menghasilkan kejutan saat Belgia, Belanda, Swiss, Spanyol, Uruguay, dan Italia gagal lolos ke putaran final.

Putaran final memberikan kesempatan untuk menyaksikan kekuatan sepak bola baru, seperti Wales, Irlandia Utara, Uni Soviet, dan Swedia.

Keenam belas negara peserta putaran final dibagi dalam empat grup yang terdiri atas empat negara. Untuk pertama kalinya sistem setengah kompetisi diberlakukan, yakni masing-masing negara melakukan tiga pertandingan menghadapi tiga negara lain di grup mereka.

Setelah gagal di dua kesempatan--1950 dan 1954--Brasil mempersiapkan diri dengan sangat serius.

Ditangani Vicente Feola, Brasil memuncaki grup keras--grup 4--yang dihuni Austria (3-0), Inggris (0-0) dan Uni Soviet (2-0).

Dalam pertandingan terakhir menghadapi Uni Soviet, Brasil menurunkan dua pemain anyar, Manuel Fransisco Dos Santos, yang kemudian dikenal dengan Garrincha, serta pemain berusia 17 tahun, Edson Arantes do Nascimento, atau pendeknya, Pele.

Tak ada yang bisa menghentikan langkah Brasil. Wales terbilang paling beruntung. Gawang mereka hanya kebobolan 0-1 di perempat final. Gol tunggal dicetak Pele. Inilah gol pertama Pele di Piala Dunia. Bintang baru telah lahir.

Di semifinal, tak ada lagi yang bisa menghentikan Brasil. Prancis, yang diperkuat Just Fontaine, top scorer dengan 13 gol di Piala Dunia kali ini, disikat 6-3, dan Pele mencetak hat trick.

Sekali lagi Brasil lolos ke final, kali ini lawan tim Samba adalah tuan rumah Swedia.

Ditangani pelatih asal Inggris, George Raynor, Swedia melangkah ke final setelah mengalahkan juara bertahan Jerman Barat (3-1) di semifinal.

Tapi di final, 51.800 penonton yang hadir di Stadion Rasunda, Stockholm--juga Raja Swedia King Gustav Adolf--harus kecewa.

Dalam partai yang kemudian dikenal dengan Mercenaries versus Magicians (Tentara Bayaran versus Pesulap) ini, Brasil--untuk pertama kalinya--tertinggal lebih dulu setelah Swedia mencetak gol lewat Nils Liedholm pada menit ketiga.

Namun, hal itu tak berlangsung lama. Garrincha dua kali menerobos barisan belakang Swedia untuk memberikan umpan matang kepada Vava pada menit kesembilan dan ke-32.

Pada awal babak kedua, Pele mencetak gol pada menit ke-55 sebelum ditambah Mario Zagallo (68). Meski tuan rumah memperkecil skor lewat gol Agne Simonsson (80), Pele memastikan kemenangan Brasil di masa injury time. Skor 5-2 untuk Brasil.

Seusai pertandingan, pendukung Swedia akhirnya memuja Brasil, terutama kepada pemain mudanya, Pele. Raja Gustav bahkan langsung menyalami Pele dan berfoto dengan tim yang mengalahkan negaranya.
sumber

Piala Dunia 1954

Sejak dimulainya dekade 1950, Hungaria tumbuh menjadi kekuatan sepak bola dunia. Juara Olimpiade 1952 di Helsinki, Finlandia, dan tak terkalahkan dalam 28 pertandingan internasional sejak Mei 1950 (31 pertandingan, 27 kali menang, dan empat imbang) merupakan beberapa rekor yang dicatat tim berjuluk The Magical Magyars itu.

Dunia disajikan revolusi baru sepak bola yang diusung Ferenc Puskas, Jeno Bozsik, Zoltan Czibor, Sandor Kocsis, dan Nandor Hidegkuti.

"Seperti menghadapi tim dari angkasa luar," kata gelandang Inggris, Syd Owen, setelah timnya dikalahkan 7-1 di Budapest pada 1954. Setahun sebelumnya, 1953, Inggris juga keok 3-6 di Wembley, kekalahan pertama The Three Lions di stadion kebanggaannya itu.

Presiden baru FIFA asal Belgia, Rodolphe William Seeldrayes (1954-1955), mengubah format turnamen kelima ini. Babak kualifikasi yang diikuti 34 negara memperebutkan 14 tempat plus Uruguay sebagai juara bertahan dan tuan rumah Swiss yang lolos otomatis.

Keenam belas peserta final dibagi dalam empat grup, dua tim teratas dari masing-masing grup lolos ke babak perempat final.

Status favorit Hungaria ditunjukkan pada penyisihan grup 1. Tim asuhan Gustav Sebes itu bermain dengan pola superofensif 4-2-4, Korea Selatan dilumat 9-0 dan Jerman Barat ditekuk 8-3.

Jerman Barat sendiri tetap lolos setelah pada pertandingan terakhir menang 7-2 atas Turki.
Perempat finalis lainnya adalah Brasil dan Yugoslavia (grup 1), juara bertahan Uruguay dan Austria (grup 3), serta Inggris dan Swiss (grup 4).

Partai perempat final menghadapi Brasil berubah layaknya perang. Dalam The Battle of Berne, demikian partai itu dijuluki, dua pemain Brasil dan satu pemain Hungaria diusir wasit karena berkelahi seusai pertandingan. Hungaria menang 4-2.

Hungaria semakin difavoritkan juara karena tampil gemilang di semifinal. Juara bertahan Uruguay disikat 4-2. Apalagi lawan Hungaria di final adalah Jerman Barat, yang menang 6-1 atas Austria.

Partai final menghadapi Jerman Barat seharusnya hanya formalitas bagi Hungaria. Tapi kenyataannya tidak.
Sekitar 60 ribu penonton di Stadion Wankdrof, Berne, 4 Juli 1954, menjadi saksi munculnya kekuatan baru di sepak bola dunia.

Hanya dalam waktu delapan menit, Hungaria sudah unggul 2-0 lewat gol Puskas pada menit keenam dan Zoltan Szibor dua menit kemudian.

Tapi--juga dalam waktu delapan menit--Jerman Barat membalas lewat gol Max Morlock pada menit ke-10 dan Helmut Rahn pada menit ke-18. Kedudukan imbang 2-2 bertahan hingga turun minum.

Di babak kedua, Hungaria meningkatkan serangan, namun gagal karena kegemilangan kiper Jerman, Toni Turek. Enam menit menjelang pertandingan usai, kejutan itu terjadi. Rahn kembali mencetak gol dan Jerman Barat juara.

Bagi Gyula Grosics, kiper Hungaria, pahitnya kekalahan masih terasa selama satu dekade. "Itu adalah hari paling sedih bagi sepak bola Hungaria. Sudah lebih 40 tahun, tapi jika ada orang yang mengingatkan pertandingan tersebut, saya masih menangis," katanya.
Rekor tak terkalahkan dan nama besar The Magical Magyars sirna. Tim Panser kini muncul jadi kekuatan baru sepak bola dunia!
Sumber

Piala Dunia 1950

Setelah Piala Dunia 1938, sepak bola tidur panjang selama 12 tahun. Perang Dunia II yang melanda Eropa serta Asia membuat pelaksanaan Piala Dunia tertunda.

FIFA kembali melaksanakan kongres pada 25 Juli 1946 di Luksemburg. Kongres kali ini menandai kembalinya Inggris Raya (Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia) ke FIFA setelah absen sejak 1929 sehingga total FIFA beranggotakan 29 negara.

Dalam kongres itu, Presiden FIFA Jules Rimet menerima kembali trofi Victoire aux Ailes d'Or dari Wakil Presiden FIFA asal Italia, Dr. Ottorino Barassi.

Ada cerita unik dari trofi itu selama Perang Dunia II. Banyak tentara yang mendatangi rumah Barassi berharap bisa mendapat trofi itu. Tapi Barassi menyembunyikan trofi emas setinggi 30 sentimeter seberat 4 kilogram tersebut dalam kotak sepatu dan dilemparkan begitu saja ke sudut ruangan!

Karena Eropa masih porak-poranda, Brasil pun dipilih sebagai tuan rumah event 1950. Bangga terpilih, Brasil membangun stadion legendaris, Maracana Stadium, yang berkapasitas 220 ribu penonton di Rio de Janeiro.

Brasil juga menyiapkan stadion di Kota Sao Paulo, Belo Horizonte, Curitiba, Recife, dan Porto Alegre.
Sayangnya, penolakan masih terjadi. Skotlandia memberikan tempatnya bagi Inggris, Austria memberikan kesempatan bagi Turki tapi kalah di tangan Yugoslavia.
Prancis menolak hadir, demikian juga dengan Peru, Ekuador, dan Argentina. Sementara wakil Asia, India, yang sebenarnya lolos, tak mendapat izin FIFA karena bermain dengan telanjang kaki!

Dari 16 negara yang seharusnya ikut serta, hanya 13 negara yang hadir dan dibagi dalam empat grup (grup 1 dan 2 terdiri atas empat tim, grup 3 diisi tiga tim, dan grup 4 hanya dua tim).

Di grup 1, Brasil menjadi favorit karena memiliki pemain andal, seperti Friaca, Chico, Jair, Zizinho, dan Ademir. Brasil menundukkan Meksiko 4-0, imbang dengan Swiss 2-2, dan mengalahkan Yugoslavia 2-0.

Penampilan Inggris untuk pertama kalinya berakhir memalukan. Berada di grup 2, menang 2-0 atas Cile di pertandingan pertama, The Three Lions lantas kalah 0-1 dari Amerika Serikat dan 0-1 dari Spanyol.

Di grup 3, tragedi jatuhnya pesawat pemain Torino di Lisabon pada 4 Mei 1949 mempengaruhi penampilan Italia. Juara bertahan ini kalah bersaing dengan Swedia, yang muncul sebagai pemuncak grup.

Sedangkan grup 4, yang hanya ditempati Uruguay dan Bolivia, berkesudahan dengan kemenangan Uruguay. Juara Piala Dunia 1930 ini menang 8-0 lewat hat trick Oscar Muguez, dua gol Juan Schiaffino, serta satu gol Ernesto Vidal, Julio Perez, dan Alcidea Ghiaggia.

Kembali milik Uruguay

Setelah istirahat selama satu pekan, putaran final diikuti tuan rumah Brasil, Uruguay, Swedia, dan Spanyol. Brasil membuka pertandingan dengan menghancurkan Swedia 7-1 dan menggulung Spanyol 6-1 di pertandingan kedua.

Pendukung Brasil sudah siap berpesta karena Selecao hanya butuh hasil imbang dengan Uruguay di pertandingan terakhir, 16 Juli. Apalagi calon lawan Brasil ini hanya mampu bermain imbang 2-2 dengan Spanyol dan menang 3-2 atas Swedia.

Tapi di hadapan 193.850 penonton di Stadion Maracana, drama itu terjadi.

Brasil membuka gol lewat Silbino Cradoso Friaca pada menit ke-47. Namun, Uruguay membalikkan keadaan saat menyamakan kedudukan lewat Juan Alberto Schiaffino pada menit ke-66. Dan Alcides Edgardo "Chico" Ghiggia mencetak gol kemenangan 11 menit menjelang pertandingan usai.

Kegagalan itu benar-benar memukul Selecao. Bahkan ofisial Brasil sampai lupa memberikan trofi kepada Uruguay. Presiden Jules Rimet terpaksa turun ke lapangan dan menyerahkan trofi kepada kapten Uruguay sekaligus menutup turnamen.

Bagi publik Uruguay, kemenangan itu selalu jadi kemenangan. Sampai sekarang, setiap kali timnya menghadapi Brasil, mereka selalu bernyanyi, "Maracana.. maracana.. maracana...."

Terlepas dari drama Maracana, Taca de Mondo atau Piala Dunia 1950 menjadi Piala Dunia paling sukses. Piala Dunia dan sepak bola kini memasuki era baru.
Your Ad Here